√ Tirta Lie, Bakmi, dan Kisah Kepedulian - Jatengnyamleng.id

Tirta Lie, Bakmi, dan Kisah Kepedulian


Satu lagi nama tokoh yang mencuat di blantika kuliner Indonesia. Namanya Tirta Lie. Setelah Bondan “mak nyus” Winarno berpulang pada tahun 2017, mengorbitlah nama Tirta Lie. Memang tidak setenar Bondan, namun kepedulian dan kiprah Tirta Lie terhadap kuliner Indonesia, terutama bakmi, layak diapresiasi.

Kisahnya bermula dari kegemaran Tirta menggowes sepeda setiap pagi. Selepas bersepeda, ia pun berburu sarapan. Bakmi akhirnya dipilih sebagai menu sarapannya. Jadilah, tiap pagi, Tirta menutup ritual bersepedanya dengan sarapan bakmi yang ditemuinya di perjalanan pulang atau atas rekomendasi teman.

Tiap mengunjungi kedai bakmi, ia memotret bakminya dan kalau bakminya enak diunggahnya di laman Facebook-nya. Teman-temannya pun melirik kebiasannya tersebut. Tiap kali ia mengunggah kedai bakmi, teman-temannya segera menyerbu kedai bakmi tersebut.

Ia tidak menyangka respons teman-temannya begitu heboh. Bahkan, ia tidak mengira kalau ada yang mendokumentasikan daftar bakmi yang diunggahnya dan lalu dibagikan lewat BBM (Blackberry Messenger), sehingga kedai-kedai tersebut menjadi ramai dikunjungi dan namanya 
ikut disebut.

Dari kebiasaannya itulah, pada tahun 2016, Tirta Lie mendapatkan anugerah MURI sebagai Pengunjung dan Peresensi Rasa Bakmi Terbanyak. Buku berjudul Tirta Lie 100+ Bakmi Terlezat di Jakarta ini mendokumentasikan 100 lebih kedai bakmi enak di Jakarta rekomendasi Tirta Lie.

Ke-100 kedai bakmi itu tentu istimewa karena merupakan hasil seleksi ketat dari 1.000 lebih kedai bakmi di Jakarta yang sudah dikunjungi dan diulas oleh Tirta Lie di blog, website, dan media sosial. Namun, Tirta mengaku bahwa buku ini bukan buku ranking bakmi-bakmi di sekitar Jakarta, melainkan cerita mengenai beberapa bakmi legendaris dan daftar lokasi bakmi mana saja yang laik dicoba.

Penilaian bakmi itu sendiri, menurut Tirta, murni dari dirinya. Bukan karena permintaan atau imbalan dari pemilik kedai. Perut yang lapar usai bersepeda, membuatnya pasang radar untuk menuju kedai bakmi enak. Seiring pengalaman, Tirta mengaku bisa menilai bakmi enak dan tidak dengan melihat tampilan pertama, harumnya, dan cara menyiapkan. “Biasanya, feeling saya tidak pernah meleset,” ungkap Tirta.

Buku karya Tirta ini tidak hanya sekedar mendokumentasikan perjalanan lidah Tirta Lie mencicipi bakmi enak di seantero Jakarta, namun juga merefleksikan kepedulian seorang Tirta Lie terhadap pengembangan kuliner Indonesia. Spirit itulah yang secara kuat diembuskan Tirta di buku ini, bahkan sejak di kata pengantar.

Tirta Lie, misalnya, menutup kata pengantarnya di buku ini dengan kalimat ajakan yang menyengat. “Jangan pernah takut untuk mengenalkan dan membanggakan kuliner Indonesia. Teruslah berinovasi untuk mengharumkan kuliner Indonesia dan menjadikannya makin dikenal di seluruh bangsa. Karena kalau bukan kita, siapa lagi,” tulis Tirta.
 

 
Peduli Pengembangan
Tirta memang bukan sekadar penikmat bakmi. Ia juga peduli terhadap pengembangannya. Karena itu, tak berhenti sekedar mencicipi, Tirta Lie juga tergerak secara nyata untuk ikut mengembangkan.

Perjalanannya singgah di 1.000 lebih kedai bakmi menjadikan Tirta melihat ada “persoalan cukup serius” yang menerpa para pebisnis bakmi, yang membuatnya prihatin.  Menurutnya, dalam bisnis bakmi, apalagi yang sudah lebih dari dua atau tiga keturunan, mulai susah melakukan suksesi, enggan melakukan perubahan, atau bersosialisasi dengan dunia luar. Cukuplah kalau keuntungan hari ini bisa untuk berjualan esok hari.

Dari keprihatinan itulah, Tirta kemudian menggagas Tirta Lie Festival, sebuah festival bakmi untuk menyatukan para penjual bakmi enak, sekaligus memperluas wawasan, membuka peluang bisnis, dan menambah pelanggan baru. Festival bakmi pertama kali diselenggarakan di MOI (Mall of Indonesia) pada November 2017.

Tingginya animo pengunjung membuat Festival Bakmi sampai saat ini sudah digelar 6 kali, termasuk satu kali bazaar bakmi yang bersifat sosial di Wihara Amurva Bhumi, yang berhasil menjual 2.147 mangkok dalam sehari.

Kedai bakmi yang bisa ikut festival hanya kedai bakmi yang telah mendapat “Tirta Lie Approved”. Hal itu sebagai wujud pertanggungjawaban kepada pihak mal sebagai penyelenggara, juga kepada calon pengunjung, bahwa bakmi-bakmi yang ikut festival memang benar-benar pilihan dan direkomendasikan. Di sinilah nama Tirta Lie benar-benar dipertaruhkan.

Menariknya, untuk semua itu, Tirta tidak mencari keuntungan. Tirta menyatakan, sejak awal ia melakukan perjalanan sebagai penikmat bakmi, ia tidak mencari untung dari menulis ulasan. Dalam menulis ulasan sampai memberikan stiker “Tirta Lie Approved”, ia tidak mau menerima bayaran. Ia melakukannya berdasarkan apa yang ia sukai saja.

Karena tidak mencari keuntungan itulah, hubungannya dengan para pemilik kedai bakmi yang sudah ia ulas bisa menjadi seperti teman. Ia ikut memberi saran jika mereka berkonsultasi. Tentu saja tanpa bayaran. Tirta percaya, karma baik akan datang jika kita selalu berbuat kebaikan.

Para penjual bakmi yang ia ulas dan memperoleh “Tirta Lie Approved” saat ini menyebut dirinya Tirta Lie Family. Walau di atas kertas mereka bersaing karena bergerak dalam bisnis yang sama, mereka tetap bisa menggalang rasa kekeluargaan. Melalui festival bakmi, mereka jadi saling mengenal, belajar satu sama lain, bahkan bergotong royong. Pertemuan di luar acara atau diskusi di grup WhatsApp pun kerap terjadi. Biasanya topik diskusinya ide-ide untuk melahirkan menu baru atau cara-cara marketing untuk mendongkrak pendapatan.

Buku ini akan menjadikan kita tidak akan lagi bingung mencari bakmi enak di Jakarta. Bagi yang muslim, jangan khawatir, Tirta Lie memilah bakmi rekomendasinya ke dalam bakmi halal dan nonhalal. Tentu, lebih dari sekedar rekomendasi kedai bakmi enak, buku ini juga berisi percikan inspirasi hebat tentang kiprah Tirta Lie dalam ikut serta memajukan kuliner Indonesia. Sangat inspiratif.    

Data buku:
Judul: Tirta Lie 100+ Bakmi Terlezat di Jakarta
Penulis: Tirta Lie
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama dan m&c!
Cetakan ke-1: 2019
Tebal: 128
ISBN: 978-602-480-739-9

*Tulisan ini dimuat di koran Suara Merdeka edisi Minggu, 17 Mei 2020.

Get notifications from this blog

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.