√ Peran Media Cetak dalam Pengembangan Kuliner di Indonesia - Jatengnyamleng.id

Peran Media Cetak dalam Pengembangan Kuliner di Indonesia



Indonesia adalah negeri yang kaya akan khazanah kuliner. Hampir di setiap daerah memiliki ikon kuliner yang khas. Antara lain: rendang (Minang), rawon (Surabaya), sate lilit (Bali), gado-gado (Jakarta), lunpia (Semarang), gudeg (Yogyakarta), serabi (Solo), dan lain sebagainya. Seiring perkembangan zaman, berbagai kuliner itu menyebar ke berbagai daerah lain. Sehingga untuk menikmati kuliner-kuliner tersebut tak harus pergi ke kota asalnya.

Situasi seperti itu barangkali tak kita dapatkan pada Indonesia tempo doeloe. Pada zaman dahulu,  setiap daerah hanya mengenal kuliner daerahnya masing-masing. Lidah dan selera masyarakat Indonesia belum terbuka untuk bisa menerima kuliner dari daerah lain. Hingga secara perlahan, terutama berkat peran media massa, masyarakat mulai terbuka dengan kuliner dari daerah lain. Kemudian sejarah mencatat, dari ‘rahim’ media cetak (koran dan buku), lahirlah sejumlah tokoh yang melegenda di bidang kuliner, yang namanya harum hingga kini. 

Salah satunya adalah Julie Sutarjana yang rajin mengisi kolom resep secara berkala di minggunan  Star Weekly pada tahun 1951. Star Weekly adalah tabloid mingguan paling populer ketika itu. Dari resep-resep yang telah dimuat di tabloid itulah , pada tahun 1957 Julie Sutarjana membukukan resep-resepnya dalam sebuah buku berjudul Pandai Memasak 1, dan disusul dengan Pandai Memasak 2. Setelah Star Weekly berhenti terbit, Julie beralih mengisi kolom Dapur Kita di Kompas edisi Minggu sejak tahun 1971 hingga sekarang.

Tak pelak, sebagai penulis resep di koran dengan tiras terbesar dan jangkauan peredaran terluas nasional, mengantar Julie Sutarjana layak disebut sebagai tokoh di bidang kuliner yang sangat berpengaruh. Pengaruhnya dalam ikut serta mewarnai perkembangan kuliner di Indonesia tak diragukan.

Terobosan penting dalam perkembangan kuliner di Indonesia adalah ketika Pemerintah Republik Indonesia (dalam hal ini presiden Sukarno) melalui Menteri Pertanian ketika itu, menghimpun resep masakan dari seluruh penjuru Nusantara. Sehingga terhimpunlah sejumlah 1.600 resep dan dibukukan dalam sebuah buku tebal berjudul Mustika Rasa, terbit pada 1967.

Setelah itu, memasuki era 1970-an, lahirlah sejumlah majalah wanita seperti Femina, Kartini, Sarinah, dan Wanita Indonesia, yang memiliki peran cukup vital dalam menyosialisasikan berbagai kuliner dari berbagai daerah. Diperkuat lagi dengan kehadiran berbagai lembaga yang konsen di bidang kuliner, seperti Lembaga Kuliner Indonesia (LKI) dan Yayasan Gizi Kuliner Jakarta, menjadikan perkembangan kuliner di Indonesia semakin masif dan progresif.
Buku berjudul Selayang Pandang Kuliner Indonesia, Peran Media Cetak dan Lembaga Kuliner ini menyajikan pembahasan tentang peran media cetak dan lembaga kuliner dalam mengawal perjalanan kuliner Indonesia, sejak masa perjuangan hingga sekarang.
Sayangnya, buku ini hanya membatasi peran media cetak saja. Itu pun dalam skala terbatas. Peran media elektronik, terutama televisi dan media sosial seperti facebook dan instagram,  yang juga sangat berperan dalam perkembangan kuliner Indonesia, terutama pada dasawarsa terakhir, sama sekali tak dibahas.

Di antaranya melalui acara Wisata Kuliner di sebuah televisi swasta yang dibawakan oleh mendiang Bondan Winarno, yang harus diakui, sangat signifikan dalam ikut serta memopulerkan berbagai kuliner tradisional Indonesia. Bahkan dari Bondan-lah, populer istilah mak nyus atau pokok’e mak nyus.

Selain itu, tidak hanya LKI dan Yayasan Gizi Kuliner Jakarta yang berperan aktif dalam perkembangan kuliner di Indonesia. Pada fase era media sosial, banyak lembaga dan komunitas yang berperan dalam memperkenalkan dan memopulerkan kuliner Indonesia. Seperti Jalan Sutra, sebuah komunitas penggiat kuliner yang berdiri pada tahun 2003 dan dibidani oleh Bondan Winarno. Ada juga  Natural Cooking Club (NCC) yang digawangi oleh Fatmah Bahalwan. 

Dan belakangan muncul Akademi Kuliner Indonesia (AKI), sebuah komunitas pencinta kuliner tradisional Indonesia yang berdiri pada 1 Juni 2014, yang digagas dan didirikan (salah satunya) oleh Guru Besar UGM Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito.

Buku ini belum lengkap memotret semua aktor yang berperan dalam pengembangan kuliner di Indonesia. Karena itulah, boleh jadi, yang menjadi alasan di balik pemilihan judul buku ini yang ditulis “selayang pandang”. Jadi, buku ini hanya memotret perkembangan kuliner secara sekilas saja, termasuk aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.
Meski begitu, buku ini bisa menjadi pengayaan penting bagi para pencinta kuliner Indonesia. Setidaknya, buku ini menyuguhkan catatan  kuliner Indonesia yang dirintis sejak tahun 1970-an, dengan segenap aktor yang terlibat di dalamnya, yang boleh dikata menjadi fondasi bagi perkembangan kuliner di Indonesia hingga meraih capaian seperti sekarang ini.
100 Resep
Buku ini juga dilengkapi 100 resep kuliner tradisional Indonesia pilihan dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, seperti jamak pada buku himpunan resep masakan pada umunya, tidak ada penjelasan atau deskripsi meskipun singkat tentang profil sebuah masakan, kecuali sekedar resep dan fotonya saja. Sehingga pembaca sering kebingungan, karena seringkali terdapat kesamaan nama masakan dari sejumlah daerah.

Misalnya, di buku ini Celorot dimasukkan sebagai kuliner dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sedang dalam referensi kuliner Jawa, clorot atau celorot sering dikaitkan dengan jajanan pasar tradisional Jawa. Adapun di Lombok, memang terdapat kuliner serupa, namun lebih dikenal dengan nama cerorot.

Adanya penjelasan atau deskripsi atas sebuah kuliner yang sama nama tapi (mungkin) beda versi, akan menjadikan kebingungan itu dapat teratasi. Sekaligus dapat menambah kekayaan pengetahuan para pembaca tentang khasanah kuliner Indonesia yang memang sangat kaya dan beragam.

Data buku:
Judul: Selayang Pandang Kuliner Indonesia, Peran Media Cetak dan Lembaga Kuliner
Penulis: Tuti Soenardi, Sri Wahyu Soekirman, dkk
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1: 2018
Tebal: 260 hlm
ISBN: 978-602-06-1917-0

*Tulisan ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Madura edisi Kamis, 30 April 2020 dengan judul "Peran Media Cetak dalam Pengembangan Kuliner".

Get notifications from this blog

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.